Hari-Hari Terakhir Bersama Sang Idola



Di malam yang sepi, aku hanya berdiam di kamar sambil mendengarkan lagu SM*SH – I Heart You sambil melihat-lihat foto-foto personil SM*SH, terlebih salah satu personilnya yaitu Dicky Muhammad Prasetya. Malam itu aku hanya bisa berpikir, kapan aku bisa ketemu dengan Dicky, Bisma, Morgan, Rangga, Rafael, Ilham ataupun Reza. Aku hanya bisa melihat mereka di media massa saja, seperti TV, majalah atau apapun itu. Karena kotaku di Yogyakarta, jauh dari tempat biasa mereka bekerja. Setiap malam aku hanya bisa berandai-andai untuk bertemu dengan mereka, karena mungkin itu semua hanya mimpi.
                Belum lagi, aku ingat dengan kejadian dirumah sakit tadi siang, bahwa aku divonis penyakit yang sangat parah. Penyakit itu hanya bisa disembuhkan jika ada keajaiban dan keburuntungan untukku. Walaupun masih ada satu jalan, yaitu jika aku mau mengikuti rutin terapi dari dokter. Tiba-tiba mama masuk ke kamarku........
                “Tita... kamu mau ya menjalani terapi dari dokter agar kamu bisa cepat sembuh?”
                “Aku gak semangat ma, kalo emang udah waktunya, aku bakal mati kok.”
                “Husssh, kamu ini ngomong apa? Kalo bagitu, apa yang bisa membuat kamu semangat untuk mengikuti terapi ini?”
                “Yang buat aku semangat? Hmm... aku bakal semangat kalo disetiap terapi aku ditemenin sama kak Dicky, personil Boyband SM*SH itu mah!”
                “Ha? Gimana caranya nak? Itu susah..” jawab mama.
                “Ya mama mau aku ikut terapi itu gak?”
                “Yasudah, mama usahakan ya sayang” sambil mengelus rambutku.
                Selama beberapa minggu, mama, keluarga dan sahabat-sahabatku berjuan keras untuk menuruti permintaanku itu. Hingga akhirnya, pada waktu itu badanku terasa sangat lemas, pusing, cenat-cenut gak karuan. Karena keadaanku yang sudah parah, aku dilarikan ke rumah sakit. Padahal sebelum aku pingsan itu, keluarga dan sahabat-sahabatku sudah berhasil membawa ke-7 personil SM*SH kerumah, tapi akunya keduluan gak kuat haha-_- selama beberapa jam aku koma. Dan pada waktu aku membuka mata kembali.......... WAW! TERNYATA! KE-7 PERSONIL SM*SH SUDAH ADA DI DEPAN MATAKU!
                “Surprise!!!” sahabatku Vanya sedikit berteriak.
                “Ini? Apa?” kataku dengan nada yang sangat lemah.
                “Semua keluarga dan sahabatmu udah berusaha mencari kita Tita, dengan perjuangan yang sangat besar. Makanya, karena kami simpati terhadap kamu, kami mau menemani kamu selama terapi. Tapi kamu harus ikut terapinya ya.” Tiba-tiba Dicky SM*SH berbicara.
                Aku hanya bisa diam dan tidak bisa berkata apa-apa saat itu.
                “Loh? Kok diam saja sih? Mau tidak titaaaa?” Bisma pun ikut berkata.
                “Hhhh...Ten..tentu saja aku mau kak. Ta...tapi....”
                “Tapi apa? Ayolah Tita, kita semua sudah datang kesini khusus buat kamu. Apa kamu mau menyia-nyiakan semuanya?”
                “Kakak-kakak dan Vanya, umurku emang udah ditakdirin gak lama lagi. Buat apa itu terapi? Udahlah, tinggal nunggu waktu aja kok” kataku putus asa dan gak ngerasa kalo sudah ada air mata keluar dari mataku.
                “Hey Tita! Kamu ini ngomong apa? Kamu harus ikut terapi itu! Ini perintah seorang Dicky! Kamu harus mau ya sayang?” kata Dicky sambil memelukku dan menghapus air mataku.
                “Untuk Dicky, aku mau deh” aku menjawabnya dengan terpaksa.
                Sudah hampir 2 minggu aku menjalani terapi agar penyakitku bisa sembuh itu, dan menurutku semuanyaa tidak ada kemajuan. Aku hanya bisa tiduran di kamar rumah sakit saja dan merasa sangaaaaaaat bosan!!! Hingga suatu malam............
                “Dicky.. aku bosan dikamar rumah sakit ini terus. Tolong ya, ajak aku jalan-jalan keluar. Please, aku ngerasa penat banget disini Dicky.”
                “Iya Tita, tapi jangan lama-lama ya. Ini sudah malam”
                “Iya... Kan ada kamu yang pasti ngejagain aku kan?”
                “Iyadong, apasih yang gak Dicky lakuin untuk Tita?”
                “Ih... ngerayu nih? Udah ah, ayook!”
                Malam itu, malam indah sekali bagiku. Aku jalan-jalan mengelilingi taman rumah sakit bersama idolaku DICKY SM*SH. Malam itu seperti mimpi indah bagiku, andaikan bisa aku mau waktu berhenti disitu saja agar aku bisa bersama Dicky selamanya. Tiba-tiba di keheningan malam......
                “Dicky, aku boleh ngomong sesuatu gak?”
                “Boleh dong. Apa?”
                “Kalo besok aku udah gak ada didunia ini lagi, kamu bakal ngelupain aku gak?”
                “Husshhhh... kamu ngomong apa sih Tita?”
                “Aku serius, tolong jawab pertanyaanku Dicky.”
                “Aku gak bakal ngelupain kamu Tita sayang. Sampe kapanpun!”
                “Janji?”
                “Yap! Janji!”
                “Kalo gitu, tolong kasih 10 menit berharga buat aku dong Dicky. 10 menit yang gak akan kita lupain untuk selamanya.”
                “Oke!”
                Seperti yang dikatakan Dicky, dia benar-benar memberiku 10 menit yang paling indah dalam hidupku! Benar-benar tak akan dilupakan! Dicky memang cowok sempurna yang pastinya idaman semua cewek. Aku sangat beruntung bisa dekat sekali dengan dia seperti ini. Setelah memberi 10 menit berharga untukku, akhirnya aku kembali ke kamar dan beristirahat kembali. Keesokkannya...
                “Halooo Tita!!” sapa Dicky, Morgan, Bisma, Rangga, Rafael, Reza dan Ilham serentak.
                “Halo kakak-kakakku!”
                “Gimana keadaanmu?” kata Bisma.
                “Baik-baik saja kok.”
                “Hey! Muka pucat begitu dibilang baik?” sela Morgan.
                “Setiap hari mukaku pucat kali Mor, aku kan orang penayakitan haha” jawabku dengan nada bercanda.
                “Yaudah, kamu gapapa kan Tita?” tanya Dicky penuh simpati kepadaku.
                “Iya Dicky. Tenang aja.”
                “Aku boleh gak minta satu permintaan buat kalian?”
                “Iya pastinya boleh. Apa itu?” jawab Rafael.
                “Nyanyiin lagu “GADISKU” buat aku dong.”
                “SIAP!” jawab mereka barengan.
                Merekapun menyanyikan lagu GADISKU dengan sangat merdu dan indah. Sehingga aku tertidur dengan dengan pulas. Dua hari kemudian, aku merasa badanku sudah sangat tidak enak. Rasanya aku udah gak kuat menjalani semuanya. Seperti orang yang sudah mau mati saja. Malam itu, hanya ada Dicky dan aku saja di kamar rumah sakit.
                “Tita..... Malam ini mukamu kelihatan pucat sekali? Gak seperti biasanya?”
                “Ah? Masa sih? Enggak ah, biasa ajadeh jangan lebay haha”
                “Ini bukan waktunya bercanda Tita! Serius!”
                “Yah.. kok malah dimarain sih? Sedih nih aku Dicky”
                “Maaf Tita, gak maksud aku kan panik, kamu malah bercanda gitu. Bentar aku panggilin dokter dulu ya.”
                “eh gak usah!!” kataku sambil menahan Dicky yang hendak keluar.
                “Kamu temenin aku aja disini ya, yang aku butuh sekarang kamu, bukan dokter” kataku lagi.
                “Iya sayaaang”
                “Dicky?” aku memanggilnya dengan suara sangat lirih dan lemah.
                “Iya sayang?”
                “Aku mau dong kamu nyanyiin lagu Endah n Rhesa – When You Love Someone”
                “Oke!”
                Dicky pun menyanyikan lagu itu dengan penuh pengahayatan, satu bait demi bait sudah iya nyanyikan untukku. Ini penggalannya..........

            I love you but it’s not so easy to make you here with me
I wanna touch and hold you forever
But you’re still in my dream
And I can’t stand to wait ’till nite is coming to my life
But I still have a time to break a silence

When you love someone
Just be brave to say that you want him to be with you
When you hold your love
Don’t ever let it go
Or you will loose your chance
To make your dreams come true…

“Udah aku selesaiin lagunya Tita” kata Dicky.
Tidak ada suara yang menjawabnya.
“TITA! TITA! TITA!” Dicky berteriak.
Dia mengecek jantungku dan ternyata......... sudah tidak terdengar lagi detak jantungku disana. Dia sangat sedih karena aku sudah meninggalkan dia, sebelum dia sempat mengatakan semuanya kepadaku.
“Tita. Kenapa kamu pergi secepat ini? Aku belum mengungkapkan semuanya kepadamu. Aku sangat menyanyangimu, sejak pertama kita bertemu aku sudah mempunyai rasa kepadamu. Kenapa Tuhan? Kenapa Tita?”
Ya, ternyata Dicky selama ini sangat menyayangi dan mencintai Tita. Tetapi semuanya sudah terlambat, Tuhan berkehendak lain. Dicky harus menerima semuanya dengan ikhlas dan lapang dada. Malam itu, ia meninggal di dekapan sang idola Dicky Muhammad Prasetya. Dicky pun mendekpa Tita dengan penuh kehangatan dan kasih sayang untuk terakhir kalinya.





Anastasia Tita Pratiwi
@titapratiwi
SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta
Daerah Istimewa Yogyakarta

0 comments:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites